Zakat dan Kemanusiaan

Rizqi Okto Priansyah
Direktur Eksekutif Laz BSM Umat

Laznas BSM Umat - Tinggal beberapa hari lagi seluruh umat Muslim di seluruh dunia akan menyambut Idul fitri, ujung dari bulan suci Ramadhan. Tapi, sebelum Ramadhan ini berlalu, ada suatu ritual ibadah yang wajib ditunaikan seluruh umat Islam, yakni membayar zakat.

Membayar zakat bukanlah sekadar kewajiban dan proses mensucikan harta. Namun lebih dari itu, ada nilai kemanusiaan dalam proses mengumpulkan zakat. Zakat yang merupakan rukun ketiga dari rukun Islam dalam segi istilah adalah, harta tertentu yang wajib dikeluarkan seorang Muslim dan diberikan kepada golongan yang berhak menerimanya.

Zakat dari segi bahasa berarti bersih, suci, subur, berkat, dan berkembang. Membayar zakat memiliki dimensi sosial yang sejalan dengan ibadah puasa. Di mana salah satu dimensi ibadah puasa adalah merasakan bagaimana rasanya menahan lapar, yang dialami oleh segolongan orang karena mereka tidak punya kemampuan membeli makanan.

Sejauh ini berbagai macam dan bentuk lembaga zakat ada di Indonesia. Hal itu menunjukkan betapa besarnya potensi zakat di negara kepulauan ini. Tapi patut diakui, potensi yang demikian besar ini belum mampu mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan masyarakat.

Karena itu, perlu untuk menjadi pertimbangan bahwa zakat bisa menjadi salah satu rekayasa sosial sebagai cara mengubah tingkat kesejahteraan di masyarakat. Sebab, seharusnya linier dengan akses mudah para kaum dhuafa mendapatkan peningkatan kesejahteraan hidup mereka.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) pada September 2016 mencatat, jumlah rakyat miskin ada 27,76 juta. Angka ini setara dengan 10,7 persen total penduduk Indonesia. Sebenarnya ini menjadi 'makanan' lezat bagi lembaga zakat untuk menyasar mereka. Tapi ada langkah yang terputus mengapa potensi ini seakan tenggelam.

Bisa jadi aliran zakat ini hanya menyasar sejumlah daerah yang wilayahnya masih dalam jangkauan. Artinya dari segi transportasi, para relawan lembaga zakat mampu menembusnya. Tapi bagaimana dengan wilayah lain di pelosok Indonesia yang sulit dicapai.

Kiranya salah satu poin ini menjadi catatan kita semua. Termasuk dengan kontinuitas dalam memberikan bantuan zakat. Teori ini menjadi konsep yang dibangun Lembaga Amil Zakat Bangun Sejahtera Mitra Umat (Laz BSM Umat) dalam memberdayakan umat dan mengalirkan berkah.

Sejumlah program seperti Simpati Umat, Didik Umat, Mitra Umat. tentunya dari ketiga program utama ini bermuaranya pada membahagiakan umat. Tentunya untuk mencapai tujuan itu diperlukan sinergisitas dan kerja sama antar lembaga.

Sehingga Merajut Sinergi Membahagiakan Umat bisa terwujud dan merata hingga pelosok Indonesia. Simpati Umat, program ini diperuntukkan untuk mereka keluarga atau individu miskin yang kesulitan dalam pendanaan kesehatan.

Didik Umat, membidik dari sisi pendidikan. Mencari para siswa yang berasal dari keluarga miskin untuk memperoleh pendidikan maksimal hingga perguruan tinggi. Mitra Umat, mengelaborasi semua potensi yang ada, baik itu dari segi ekonomi, sosial, pendidikan, untuk dikembangkan menjadi sesuatu yang bisa bernilai untuk umat.

Baru-baru ini Laz BSM Umat merancang Islamic Sociopreneur Development Program (ISDP) yang mengumpulkan semua potensi pemuda yang mempunyai passion dalam berwirausaha.

Kembali dalam konsep zakat, jika zakat diklaim sebagai bagian kekayaan negara yang dikelola secara profesional dan bisa berdampak langsung terhadap pengentasan kemiskinan, seharusnya dapat dibuktikan dari penurunan rasio kemiskinan yang semakin baik setiap tahunnya.

Penyaluran dan pendistribusian zakat tidak juga harus dibayarkan secara tunai per kepala, tetapi bagaimana zakat bisa bernilai manfaat dan memiliki daya guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Bisa saja dana zakat diberikan dalam bentuk lahan pertanian, sektor ril, pendidikan, atau swasta yang akan lebih banyak menyerap tenaga kerja, sehingga setiap warga miskin mendapatkan mata pencahariannya secara layak.

Jika kebanyakan meningkatnya jumlah masyarakat miskin karena kurangnya daya beli masyarakat, maka dana zakat dapat saja berimprovisasi untuk menanggulangi lemahnya daya beli masyarakat tersebut.

Untuk itu, diharapkan segenap kalangan umat Islam bisa menyalurkan Zakat, Infak, Sedekah, dan Wakaf (ZISWaf) ke Laz BSM Umat. Karena dengan sinergi yang dibangun dan dilakukan secara baik, maka sasaran kebaikan itu akan berdampak dahsyat untuk umat.

Wallahua'lam