Dari Kota ke Desa, Para Mahasiswa Ini Belajar tentang Kehidupan

Laznas BSM Umat - Laznas BSM Umat mengadakan kegiatan Social Entrepreneur Leadership yang dilakukan di Wisma Nini-Aki di Desa Sukaresmi, Pandeglang, Banten, pada 25-30 Maret 2017. Acara ini dibuka oleh Sekretaris Yayasan Bangun Sejahtera Mitra Umat (BSM Umat) Meidy Ferdiansyah. Dalam sambutannya, Meidy menjelaskan tentang pentingnya peran pemuda dalam ruang lingkup kecil hingga paling besar, seperti negara.

"Agar para pemuda mampu menjadi pionir bagi lingkungannya, untuk membawa perubahan menuju lebih positif," kata Meidy saat membuka kegiatan Social Entrepreneur Leadership di Kantor Laznas BSM Umat, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Kegiatan ini diikuti oleh sejumlah mahasiswa/i beasiswa Laznas BSM Umat. Ada 40 peserta yang berpartisipasi, di antaranya 30 perempuan dan 10 laki-laki. Setelah sambutan tersebut, peserta beserta panitia langsung berangkat menuju lokasi kegiatan, di Wisma Nini-Aki. Di hari pertama, peserta diberikan materi tentang motivasi yang diisi oleh Ustaz Fadhullah dengan materi kewirausahaan dan entrepreneurship.

Sedangkan di hari kedua, mereka diberikan pembekalan materi tentang Rapid Rural Appraisal (RRA), untuk pengumpulan informasi secara akurat dalam waktu yang terbatas tentang pembangunan perdesaan. Selain materi RRA, peserta dibekali juga materi tentang Participatory Rural Appraisal (PRA) atau mengenai penilaian, pengkajian, penelitiaan keadaan desa secara partisipatif.

Di hari ketiga, Direktur LAZ Harfa Banten, Indah Prihanande membagi pengetahuan seputar pembuatan kalender, pemetaan desa, serta potensi di desa. Dalam kegiatan ini, dibagi menjadi lima kelompok. "Pembagian lima kelompok ini, agar mereka mampu mempresentasikan hasil tugas yang diberikan, seperti kalender musim dan pemetaan desa," tutur Indah.

Sementara di hari keempat dan kelima, peserta langsung mempraktikan materi yang telah didapat, untuk diimplementasikan di lapangan atau di Desa Sukaresmi. Dan dihari terakhir, atau hari keenam, dilakukan evaluasi mengenai apa saja yang sudah dilakukan para peserta.

Penanggung jawab kegiatan, Dodi mengatakan, para peserta turun langsung melihat realita yang sebenarnya yang ada di desa tersebut. "Pesera membicarakan tentang sejumlah potensi dan permasalahan yang ada di desa. Potensi itu seperti air, tanah, sumber daya manusianya," kata Dodi.

Selain itu, dari hasil pengamatan dan praktik langsung di lapangan, sambung Dodi, para peserta menemukan beberapa permasalahan yangada di desa. Seperti buang air besar tidak pada tempatnya, tingkat pendidikan rendah, dan akses jalan rusak.

"Buang air besar masuh di kebun, tingginya pengangguran karena mereka hanya mengandalkan mata pencaharian sebagai petani. Sedangkan hand made seperti kripik atau minyak kelapa susah untuk dipasarkan karena akses sulit," tandas Dodi.